Menembus Waktu dengan Pandanwangi

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

Menembus Waktu dengan Pandanwangi

Post by Reski on Fri 18 Mar - 15:11


Hari masih pagi namun suasana di emplasemen stasiun Semarang Poncol sudah sangat ramai. Para penumpang dengan aneka bawaannya berdesakan di emplasemen, sebagian ada yang mengakhiri perjalanan di sini, lainnya menunggu kereta berikutnya untuk sampai ke tempat tujuan. Mungkin beginilah suasana sekitar 107 tahun lalu, saat Semarang Poncol masih menjadi stasiun pusat SCS (Semarang Cheribon Stoomtram Maatschapij).

Waktu itu semua penumpang dari arah barat harus turun di sini karena rel milik SCS belum tersambung dengan milik NIS (Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschapij) di timur. Bila ingin melanjutkan perjalanan, para penumpang harus pindah terlebih dahulu ke stasiun Kemijen, sekarang dikenal dengan Semarang Gudang, yang jauhnya sekitar 2,5 Km. Bahkan saat NIS membangun stasiun Semarang Tawang tahun 1914, kedua jalur tidak serta merta terhubung. Baru pada 1940, karena desakan perang, dibangunlah rel yang menghubungkan dua jalur yang terputus. Tak terasa hari beranjak siang dan KRD Pandanwangi masuk di jalur 1 dan siap diberangkatkan menuju stasiun Solo Balapan. Inilah salah satu kereta reguler dengan trayek melalui jalur kereta api tertua di Indonesia. Kembali ke masa lalu KRD Pandanwangi berangkat pukul 08..20, dan rasanya perjalanan menuju Solo ini adalah petualangan dalam mesin waktu mundur ke masa lalu saat NIS masih berjaya sebagai perintis kereta api di Indonesia. Perjalanan dengan Pandanwangi ini unik bukan saja karena akan melewati jalur tertua di Indonesia, tapi karena jalur ini dahulu menggunakan lebar sepur (gauge) 1435mm yang merupakan lebar sepur standar internasional. Sayangnya lebar sepur standar satu-satunya di Indonesia ini dibongkar oleh Jepang sekitar tahun 1942 dan menjadikannya seragam dengan mayoritas lebar sepur di Jawa yaitu 1067mm. Sayangnya Pandanwangi tidak melewati Semarang Gudang, namun lewat sisi selatannya. Padahal jalur yang melewati desa Kemijen itu adalah jalur kereta pertama yang pembangunannya diresmikan tanggal 7 Juni 1864 oleh Baron Sloet van den Beele, Gubernur Jenderal Hindia Olanda. Kehilangan besar lainnya, stasiun tertua di Jawa yaitu stasiun Kemijen sudah lama dibongkar dan tidak ada bekasnya sama sekali. Menjelang Brumbung rel terbagi dua, ke utara menuju Surabaya, dan ke selatan menuju Solo. Tanggung dan Kedungjati yang menawan Sama halnya dengan Brumbung, sebuah stasiun kecil bernama Tanggung kondisinya terlihat sangat baik. Stasiun yang dibangun dari kayu ini masih kokoh berdiri dan berfungsi penuh sebagai stasiun pengatur perjalanan kereta api. Stasiun ini merupakan stasiun akhir dari jalur kereta api pertama di Indonesia antara Kemijen – Tanggung sejauh 25 Km yang dibuka pada 10 Agustus 1867. Meskipun stasiun Tanggung yang asli sudah dibongkar, namun stasiun baru yang dibangun kemudian juga termasuk bangunan tua, karena didirikan pada tahun 1910. Sekitar 10 Km dari Tanggung, kembali Pandanwangi melewati saksi sejarah perkeretaapian Indonesia yang lain. Stasiun Kedungjati, sebuah stasiun besar yang bersih dan terawat baik dengan arsitektur klasik yang megah dihiasi pasangan bata ekspos sebagai aksen pada dinding. Daun pintu dan jendela yang berhiaskan ornamen khas jaman kolonial menambah keindahan stasiun yang konon kembaran dari stasiun Purwosari di Solo dan stasiun Willem I, sekarang dikenal dengan museum kereta api Ambarawa. Beruntung Pandanwangi dijadwalkan berhenti di sini sehingga para penumpang mempunyai cukup waktu mengagumi stasiun besar yang sudah berumur 131 tahun itu. Selain kondisi stasiun yang terawat, bekas jalur ke arah Ambrawa lewat Bringin dan Tuntang juga masih terlihat jelas. Walaupun sudah ditumbuhi semak belukar, jalur yang dibuka 21 mei 1873 ini masih relatif utuh. Bayangkan, bila kelak rencana rehabilitasi jalur Kedungjati ke Ambarawa sungguh terlaksana, para turis mancanegara atau domestik bisa mencapai museum kereta api Ambarawa dari Semarang dengan menggunakan kereta uap. Sayang, para penumpang tidak bisa berlama-lama di Kedungjati karena Pandanwangi harus melanjutkan perjalanan. Jalur bersejarah yang terlantar Meninggalkan Kedungjati, perjalanan menjadi kurang menyenangkan. Kereta berguncang keras disertai suara bising. Ternyata kondisi rel yang sangat buruk. Kondisi rel, bantalan, dan batu ballast sangat memprihatinkan. Bantalan kayu dan besi ada yang patah, bengkok, bahkan ada beberapa yang baut pengikat relnya hilang. Batu ballast tidak terlihat di beberapa titik, sehingga rel langsung menempel saja ke tanah. Masinis dipaksa bekerja keras mengendalikan kereta karena disamping keadaan rel yang sangat buruk, jalur ini juga banyak terdapat tanjakan sementara kereta tidak boleh dipacu. Pemerintah dalam hal ini Departemen Perhubungan sebagai instansi yang berwenang merawat jalan rel, harus lebih memperhatikan jalur yang sangat bersejarah ini. Seharusnya perbaikan harus segera dilakukan karena adanya potensi untuk pengembangan sebagai jalur pariwisata mengingat 15 stasiun tua di sepanjang Semarang sampai Solo mempunyai daya tarik tersendiri.

Gundih, simpangan bersejarah Perjalanan yang tidak enak ini berakhir di stasiun Gundih. Sebuah stasiun simpangan di mana jalur dari Gambringan dan dari Brumbung bertemu. Stasiun Gundih juga menyimpan sejarah tersendiri. Di tempat ini adalah awal dimulainya jalur dengan 3 rel, yaitu rel lebar 1435 mm ditambah sebuah rel lagi di dalamnya sehingga kereta dengan lebar sepur 1067 mm bisa melewati jalur itu. Hal ini harus dilakukan supaya perjalanan kereta dari dua arah tidak terhambat, karena pada saat itu rel dari arah Gambringan berukuran 1067 mm sementara dari Brumbung lebar sepurnya 1435 mm. Jalur 3 rel ini terbentang sampai ke stasiun Lempuyangan di Jogja sebelum dibongkar paksa oleh Jepang tahun 1942. Kembali Pandanwangi dijadwalkan berhenti di Gundih, sehingga ada kesempatan bagi penumpang menikmati keindahan arsitektur Indisch stasiun ini. Secara keseluruhan kondisinya terawat baik terutama di bagian depan yang baru saja di renovasi. Ruangan inti stasiun masih asli, bahkan jam besar yang dipasang bersamaan dengan pembangunan stasiun berfungsi sempurna, demikian pula perangkat pemindah wesel jenis Alkmaar buatan pabrik Amsterdam juga masih digunakan hingga saat ini. Perjalanan menuju Solo masih panjang, sehingga Pandanwangi harus berangkat kembali. Jalur di selatan Gundih kondisinya luar biasa baik, dilengkapi bantalan beton dan rel besar dengan sambungan panjang yang membuat kereta meluncur mulus dan tenang, serta bisa dipacu sampai 80 Km/jam. Pemandangan pun berangsur berubah menjadi sawah yang menghijau dan pepohonan rimbun di sepanjang rel yang berdampingan dengan jalan raya Solo – Purwodadi. Tanpa terasa perjalanan mendekati akhir. Menjelang Solo Balapan, rel terpecah dua, ke timur arah Solo Jebres dan Madiun, dan ke arah Jogja di barat. Tepat pukul 10.38 KRD Pandanwangi tiba di stasiun Solo Balapan. Saat melangkah keluar kereta rasanya seperti tersadar baru saja melakukan perjalanan dari masa lalu yang luar biasa dan kembali ke masa kini. Namun suasana masa lalu masih membayang bahkan di emplasemen stasiun Solo Balapan yang dibangun oleh NIS. Saat menengok ke arah barat terbentang jalur kereta api ke Jogja yang juga menyimpan sejarah yang tidak kalah penting bagi perkeretaapian Indonesia.

Sumber :
http://gundih.wordpress.com/2009/02/27/pandanwangi/
avatar
Reski
Geyerers

Jumlah posting : 17
Points : 45
Reputation : 0
Join date : 13.03.11
Age : 21
Lokasi : Geyer

Lihat profil user

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik