jalan-jalan yuk gan, ke kota SOLO

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

jalan-jalan yuk gan, ke kota SOLO

Post by Rohmat on Mon 28 Mar - 23:20


Solo, Sala, atau Surakarta, adalah nama sebuah kota di Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Kota ini terletak pada jalur strategis, yaitu pertemuan jalur dari Semarang dan dari Yogyakarta menuju Surabaya dan Bali. Wilayah di sekitar kota ini juga sering pula disebut sebagai Surakarta, yaitu bekas wilayah Keresidenan, pada awal masa Republik.

Kota Surakarta berdiri tahun 1745. Kota ini pernah menjadi pusat pemerintahan pada masa akhir Kesultanan Mataram. Setelah perpecahan Mataram, Surakarta menjadi pusat pemerintahan Kasunanan Surakarta dan Praja Mangkunagaran. Kedua pusat feodalisme Jawa ini memiliki keterkaitan dengan Majapahit, karena dinasti Mataram merupakan keturunan dari raja-raja Kesultanan Demak, yang juga merupakan penerus suksesi dinasti Wijaya, sang pendiri Majapahit.
Dalam perkembangannya, Solo menjadi kota dagang penting (di Solo berdiri Syarikat Dagang Islam pada tahun 1905), kota wisata (dijuluki "kota pelesir", dan kota budaya. Bangunan bersejarah, produk kesenian ini., makanan khas, serta hiburan mudah dijumpai di tempat ini dan di titik-titik di sekitar kota

Mengunjungi kota solo seakan membawa kita ke masa dimana ambisi kehidupan duniawi dapat berjalan selaras dengan hasrat akan tradisi dan kearifan dalam menjalani kehidupan. Tak perlu khawatir akan berbagai hambatan yang akan kita temui dikota ini karena Disini anda akan disambut oleh senyuman ramah dan tawaran akan berbagai bantuan yang tulus. Karena masyarakat kota Solo dikenal dengan temperamennya yang halus dengan intonasi bicara yang cenderung pelan dan sangat menghormat, khas warga Jawa Tengah, membuat kita akan semakin enggan untuk segera beranjak meninggalkan kota ini.

Sebagai kota dengan sejarah pemerintahan kerajaan Jawa masa lalu, Solo menjadi saksi betapa panjangnya perjalanan dan pembelajaran yang dialami, dalam melewati masa demi masa dan berbagai akulturasi budaya yang akhirnya membentuk karakter dan memberi warna tersendiri pada perkembangan kota Solo. Berkembang dari wilayah suatu desa bernama Desa Sala, di tepian sungai bengawan solo yang dibangun pada tahun 1745 sebagai akibat dari peristiwa “geger pacinan”, Solo berkembang menjadi suatu wilayah “Vorstanlande” atau daerah kekusaan raja yang sangat diperhitungkan oleh pemerintahan kolonial Belanda pada masa penjajahan, hal ini di lihat dari banyaknya bangunan bergaya Kolonialisme yang bersanding apik dengan properti bangunan milik kerajaan di kota Solo.

Berjalan dari kawasan alun-alun Arsopuro anda akan disambut oleh sebuah benteng militer tua khas Kolonial yang dibangun pada tahun 1874 bernama “Kavallerie - Artillerie” yang masih tegak berdiri tepat diluar dari tembok keraton Puro Mangkunegaran, dengan warnanya yang telah usang dan berlumut, benteng yang telah berusia sekitar 136 tahun ini seakan mencoba bercerita tentang kegagahannya dimasa lalu sebagai menara gading eksistensi cengkraman kolonial VOC dibumi Jawa.

Jalan raya didepan Alun-alun ini disebut kawasan Ngarsopuro dan telah didapuk sebagai kawasan City Walk Kota Solo, dengan berbagai fasilitas yang telah dibangun untuk menghias area tersebut, terlihat dari banyaknya lampu hias berwarna warni yang mungkin terlihat romantis bagi muda-mudi Solo, patung pemain gamelan, deretan Topeng wayang, lukisan berukuran besar dan adanya pasar seni yang menjual berbagai hasil industry kreatif Kota Solo. berkunjung kekawasan ini pada pukul 19.00 hingga 23.00 kita akan dapat mendengarkan alunan gending jawa dari sound system yang akan mengiringi langkah kaki penikmat jejalan malam di Kota ini.

Keraton Surakarta ialah “Spot Touristy” yang paling mudah ditemukan dikota Solo, hampir semua warga Kota Solo tahu persis tentang lokasi keberadaan Kediaman Dinasti Pakubuwono ini. Keraton ini memang dikhususkan dihuni oleh keluarga Kerajaan dari Garis keturunan Susuhunan Pakubuwono beserta para punggawa dan abdi dalam keraton, terletak didekat alun-alun utara Kota Solo bersebelahan tepat dengan pasar batik Klewer dan Masjid Agung Solo. Keraton dengan bentuk bangunan perpaduan Jawa – Belanda ini didominasi oleh warna Putih dan biru muda, sebagai simbol Feodal Jawa dimasa lalu Keraton Solo hingga saat ini masih dapat menunjukkan wibawanya sebagai tempat tinggal anggota keluarga kasta tertinggi dalam masyarakat Jawa Solo.



Didalam keraton saat ini kita masih dapat melihat sisa-sisa sejarah tingginya intensitas dari akulturasi budaya Jawa dan Belanda, seperti adanya dua buah meriam dgn logo VOC berada didepan gerbang, kereta Kuda keraton Surakarta dengan Logo VOC dipintu sampingnya dan banyaknya pilar dan patung-patung ala romawi berada diarea lautan pasir dijantung Keraton. Bila ingin berkunjung Tempat ini dibuka pukul 09.00 pagi sampai pukul 14.00.

Kampung batik Laweyan ialah Salah satu kawasan Heritage dikota Solo yang saya kategorikan “must to see”. Laweyan ialah suatu Desa di pinggiran Kota Solo yang menjadikan Batik sebagai denyut nadi kehidupan masyarakatnya, Kampung lawas ini sarat dengan ribuan cerita tentang sejarah kehidupan masyarakat kota Solo “tempoe doeloe”.

Ratusan Bangunan kuno berjajar rapi menyambut kita dengan senyum tuanya disepanjang jalan dan lorong-lorong kampung ini. Kampung laweyan memiliki banyak lorong-lorong sempit yang memisahkan satu rumah dengan yang lain, akibat dari banyaknya benteng/pagar tinggi bangunan-bangunan rumah milik para saudaga batik yang ingin memperoleh keamanan maupun Privacy di tanah kekuasaan tempat tinggalnya, tentu saja Lorong-lorong ini menawarkan hal baru yang siap kita jelajahi, dan jangan bayangkan lorong-lorong dikampung ini seperti gang-gang sempit dikota besar seperti Jakarta dan Surabaya yang kumuh dan jorok, namun bersiaplah memasuki suatu kawasan surga wisata sejarah yang akan membawa kita mengingat memory masa-masa pra-kemerdekaan yang kental disini.
Didalam lorong-lorong inilah kita akan menemukan cerita bagaimana asal-usul batik di Kota Solo itu berasal. Terdapat puluhan pabrik kain Batik di sini, mulai dari Kain batik tulis dengan para pekerja wanita yang tampak sangat teliti dalam menorehkan canting batik diatas selembar kain putih, batik cap, batik lukis, hingga batik sablon yang menggunakan film sablon berukuran jumbo. Disini kita juga dapat membeli kain batik langsung dari sumbernya karena kebanyakan pabrik batik disini memiliki display room sendiri untuk menjual kain batik hasil produksi mereka. Semua proses dalam pembuatan kain batik dilakukan di kampung ini, Pembatikan, pencelupan, penjualan hingga instalasi pengolahan Limbah cair dari pabrik-pabrik batik pun ada di kampung ini.

Tidak hanya Batik yang akan bisa kita temui disini, kita dapat menemukan sebuah museum bernama “Museum Samanhoedi” sesuai namanya museum ini banyak bercerita tentang perjuangan KH. Samanhudi seorang pahlawan pergerakan nasional dan pendiri Sarikat Dagang Islam yang didirikannya pada tahun 1911 di Kampung Laweyan.

Berkunjung ke Kota ini membuat kita merasakan “Spirit of Java” yang sebenarnya dan akan mebuat kita enggan melupakan setiap detil sensasinya. Bagi anda yang masih duduk manis menikmati TV dan menonton Cinta Fitri, segera berdiri!! “Kemasi Ranselmu dan segera langkahkan kakimu”.
avatar
Rohmat
Junior Geyerers

Jumlah posting : 7
Points : 21
Reputation : 10
Join date : 22.03.11
Age : 26
Lokasi : Geyer

Lihat profil user

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik